Kenapa Kita Merasa Waktu Berjalan Makin Cepat Saat Dewasa? Ternyata Rutinitas Punya Pengaruh Besar
Waktu kecil, satu tahun terasa lama sekali.
Menunggu ulang tahun seperti tidak selesai-selesai.
Liburan sekolah terasa panjang.
Bahkan menunggu akhir pekan kadang terasa seperti perjalanan yang jauh.
Lalu kita dewasa.
Januari baru saja dimulai.
Tiba-tiba sudah April.
Tidak lama kemudian pertengahan tahun.
Kemudian seseorang mengatakan:
“Sebentar lagi tahun baru.”
Dan reaksi kita hampir selalu sama.
“Kok cepat banget?”
Jam tetap mempunyai 60 menit.
Satu hari tetap 24 jam.
Satu tahun juga tidak tiba-tiba menjadi lebih pendek.
Tetapi cara kita merasakan perjalanan waktu memang dapat berubah.
Menariknya, salah satu penyebabnya mungkin bukan karena kita terlalu sibuk.
Justru karena semakin dewasa, kehidupan kita sering menjadi semakin berulang.
Waktu Tidak Berubah, Persepsi Kita yang Berubah
Bayangkan dua minggu yang berbeda.
Minggu pertama:
bangun,
kerja,
makan,
pulang,
scroll ponsel,
tidur.
Besok ulang lagi.
Minggu kedua:
pergi ke tempat baru,
bertemu orang baru,
mencoba makanan yang belum pernah dicoba,
belajar sesuatu,
tersesat sedikit,
melihat pemandangan baru.
Keduanya tetap berlangsung tujuh hari.
Tetapi ketika mengingatnya kembali, minggu kedua kemungkinan terasa jauh lebih “penuh”.
Ada lebih banyak kejadian yang bisa kita ingat.
Inilah salah satu cara sederhana memahami kenapa waktu terasa semakin cepat saat dewasa.
Bukan waktunya yang berlari.
Hari-hari kita mungkin mulai terlihat terlalu mirip satu sama lain.
Otak Menyukai Pola
Rutinitas sebenarnya sangat berguna.
Bayangkan kalau setiap pagi kita harus memikirkan ulang bagaimana cara:
mandi,
membuat kopi,
berangkat kerja,
menggunakan komputer,
atau melakukan aktivitas dasar lainnya.
Melelahkan.
Otak belajar mengotomatisasi aktivitas yang sering dilakukan.
Itulah mengapa kita bisa melakukan banyak rutinitas tanpa memberikan perhatian penuh.
Masalahnya, sesuatu yang otomatis biasanya menghasilkan lebih sedikit pengalaman yang terasa benar-benar baru.
Pernah Sampai Tujuan tapi Tidak Ingat Perjalanannya?
Kita berkendara melalui rute yang sudah dilewati ratusan kali.
Tiba-tiba sudah sampai.
Kemudian berpikir:
“Tadi sepanjang jalan gue mikirin apa?”
Perjalanan tetap terjadi.
Kita berhenti di lampu merah.
Belok.
Melewati persimpangan.
Tetapi karena semuanya sangat familiar, otak tidak perlu memberikan perhatian sebesar ketika pertama kali melewati rute tersebut.
Hal serupa bisa terjadi pada kehidupan sehari-hari.
Pengalaman Baru Membuat Hari Terasa Lebih “Padat”
Ingat pertama kali pergi ke kota yang belum pernah dikunjungi.
Keluar dari bandara.
Mencari transportasi.
Melihat jalan.
Membaca papan.
Mencari hotel.
Mencoba makanan.
Semuanya membutuhkan perhatian.
Ada banyak informasi baru yang masuk.
Karena itulah satu hari traveling terkadang terasa mempunyai begitu banyak cerita.
Bandingkan dengan satu hari biasa di rumah.
Bangun.
Kerja.
Makan.
Tidur.
Secara durasi sama.
Tetapi jumlah pengalaman yang kita ingat bisa sangat berbeda.
Masa Kecil Dipenuhi Banyak “Pertama Kali”
Pertama masuk sekolah.
Pertama naik sepeda.
Pertama pergi sendiri.
Pertama mempunyai teman dekat.
Pertama belajar berenang.
Pertama naik pesawat.
Pertama pergi ke luar kota.
Ketika masih kecil, dunia dipenuhi pengalaman baru.
Bahkan hal sederhana bisa terasa besar karena kita belum pernah mengalaminya.
Saat dewasa, daftar “pertama kali” perlahan berkurang.
Kita sudah mengetahui bagaimana banyak hal bekerja.
Akibatnya kehidupan terasa lebih familiar.
Satu Tahun Juga Menjadi Bagian yang Lebih Kecil dari Hidup
Ada cara lain melihat fenomena ini.
Untuk anak berusia 10 tahun, satu tahun adalah bagian yang cukup besar dari seluruh kehidupan yang sudah dialaminya.
Untuk seseorang yang jauh lebih dewasa, satu tahun menjadi bagian yang secara proporsional lebih kecil.
Ini bukan rumus pasti tentang bagaimana otak mengukur waktu.
Tetapi perspektif tersebut membantu menjelaskan mengapa satu tahun bisa terasa berbeda pada usia yang berbeda.
Kesibukan Juga Bisa Membuat Minggu Menghilang
Senin pagi kita membuka laptop.
Ada pekerjaan.
Meeting.
Pesan masuk.
Deadline.
Selasa tidak jauh berbeda.
Rabu mulai sibuk.
Kamis mengejar sesuatu yang belum selesai.
Jumat datang.
Akhir pekan digunakan untuk beristirahat.
Kemudian:
Senin lagi.
Ketika perhatian terus diarahkan ke tugas berikutnya, kita jarang berhenti memperhatikan perjalanan harinya.
Kita hanya berpindah dari satu kewajiban ke kewajiban berikutnya.
Kalender Membuat Kehidupan Sangat Efisien
Dewasa berarti banyak hal sudah dijadwalkan.
Jam kerja.
Gym.
Meeting.
Belanja.
Bayar tagihan.
Appointment.
Acara keluarga.
Liburan.
Semua masuk kalender.
Efisiensi memang membantu kehidupan berjalan.
Tetapi ada sisi menariknya.
Kita mulai melihat waktu sebagai blok yang harus dilewati.
Senin sampai Jumat.
Awal bulan sampai gajian.
Kuartal pertama.
Semester pertama.
Akhir tahun.
Tanpa sadar kita lebih sering menunggu waktu tertentu daripada benar-benar memperhatikan hari yang sedang dijalani.
“Nanti Weekend” Bisa Menjadi Kebiasaan
Hari Senin:
“Nanti weekend gue istirahat.”
Weekend datang:
“Nanti bulan depan gue jalan-jalan.”
Bulan depan:
“Nanti kalau kerjaan sudah nggak sibuk.”
Kemudian akhir tahun datang.
Menunggu memang normal.
Tetapi kalau terlalu sering hidup diarahkan pada “nanti”, hari-hari di antaranya mudah terasa seperti bagian yang harus dilewati saja.
Media Sosial Bisa Membuat Waktu Menghilang
Kita membuka ponsel hanya untuk melihat satu notifikasi.
Kemudian membuka satu video.
Scroll.
Video berikutnya.
Scroll lagi.
Tiba-tiba 40 menit berlalu.
Masalahnya bukan sekadar durasi.
Aktivitas seperti scrolling sering menghasilkan banyak stimulasi kecil tetapi tidak selalu menghasilkan memori yang kuat.
Kita melihat puluhan konten.
Beberapa jam kemudian, berapa banyak yang benar-benar kita ingat?
Mungkin sangat sedikit.
Bandingkan dengan 40 Menit Melakukan Sesuatu
Empat puluh menit memasak resep baru.
Empat puluh menit berjalan di neighborhood yang belum pernah dijelajahi.
Empat puluh menit ngobrol dengan teman.
Empat puluh menit belajar memainkan lagu.
Durasi sama.
Tetapi pengalaman yang tersimpan bisa terasa jauh berbeda.
Karena itu pertanyaannya bukan hanya:
“Berapa banyak waktu yang saya punya?”
Tetapi juga:
“Waktu itu saya gunakan untuk apa?”
Rutinitas Bukan Musuh
Tidak perlu salah memahami pembahasan ini.
Rutinitas sangat penting.
Kita membutuhkan stabilitas.
Tidur teratur.
Pekerjaan.
Olahraga.
Makan.
Tanggung jawab.
Tidak mungkin setiap hari harus menjadi petualangan.
Mencoba membuat seluruh kehidupan selalu baru justru bisa melelahkan.
Yang dibutuhkan mungkin hanya sedikit variasi.
Ubah Hal Kecil
Tidak perlu langsung membeli tiket pesawat.
Coba tempat makan baru.
Pulang melalui rute berbeda.
Baca genre buku yang biasanya tidak dipilih.
Masak sesuatu yang belum pernah dibuat.
Pergi ke museum lokal.
Datang ke neighborhood yang jarang dikunjungi.
Dengarkan album baru dari awal sampai akhir.
Hubungi teman yang sudah lama tidak ditemui.
Hal kecil dapat memberikan penanda pada hari.
Buat “Memory Marker”
Coba mengingat tiga minggu lalu.
Apa yang terjadi hari Selasa?
Sulit?
Normal.
Sekarang coba ingat hari ketika:
pergi konser,
potong rambut drastis,
mencoba restoran yang ternyata luar biasa,
mobil mogok,
bertemu teman lama,
atau melihat sunset di tempat baru.
Lebih mudah.
Peristiwa yang berbeda dari rutinitas menjadi semacam memory marker.
Ia membantu kita membedakan satu periode dengan periode lainnya.
Foto Bisa Membantu, tapi Jangan Mengalami Semuanya dari Kamera
Foto adalah alat luar biasa untuk menyimpan momen.
Beberapa tahun kemudian kita bisa membuka galeri dan kembali mengingat perjalanan.
Tetapi ada keseimbangan.
Kalau seluruh perhatian diarahkan untuk mendapatkan foto sempurna, kita bisa kurang memperhatikan pengalaman yang sedang berlangsung.
Ambil foto.
Kemudian simpan ponsel.
Lihat tempatnya.
Dengar suaranya.
Perhatikan suasananya.
Biarkan otak juga mempunyai salinannya.
Traveling Terasa Panjang karena Banyak Hal Baru
Hari pertama di negara baru sering terasa panjang.
Bukan dalam arti buruk.
Pagi tiba.
Siang melakukan banyak hal.
Sore merasa seperti sudah berada di sana beberapa hari.
Kenapa?
Karena otak terus menerima informasi.
Bahasa.
Transportasi.
Arsitektur.
Makanan.
Orang.
Cuaca.
Aroma.
Suara.
Semua berbeda.
Inilah salah satu alasan traveling menghasilkan begitu banyak memori dalam waktu relatif singkat.
Tetapi Kita Tidak Perlu Traveling untuk Mendapatkan Efek Itu
Kebaruan juga bisa ditemukan di kota sendiri.
Sering kali kita lebih mengenal tempat wisata di kota yang pernah dikunjungi daripada kota tempat tinggal sendiri.
Ada museum yang belum pernah masuk.
Taman yang belum pernah didatangi.
Restoran kecil yang selalu dilewati.
Jalur jalan kaki yang tidak pernah dicoba.
Kadang pengalaman baru hanya beberapa kilometer dari rumah.
Belajar Sesuatu Membuat Bulan Lebih Mudah Diingat
Pernah belajar sesuatu dari nol?
Bahasa.
Gym.
Fotografi.
Memasak.
Coding.
Menggambar.
Instrumen musik.
Pada fase awal, hampir setiap minggu ada perkembangan.
Hal yang minggu lalu sulit mulai terasa mudah.
Kita mempunyai titik referensi.
“Oh, bulan lalu gue bahkan belum bisa ini.”
Proses belajar menciptakan perubahan yang membuat waktu mempunyai struktur.
Buat Proyek 30 Hari
Kalau beberapa bulan terakhir terasa blur, coba buat proyek kecil.
Bukan challenge ekstrem.
Misalnya:
30 hari jalan kaki.
30 hari belajar fotografi.
30 hari membaca.
30 hari memasak menu berbeda.
30 hari belajar bahasa.
Tujuannya bukan menjadi ahli dalam satu bulan.
Tujuannya memberi periode tersebut sebuah identitas.
Nanti kita tidak hanya mengingatnya sebagai “September”.
Tetapi:
“Oh, itu bulan ketika gue mulai belajar fotografi.”
Jangan Isi Semua Waktu Kosong
Ini terdengar bertentangan.
Kalau pengalaman baru membantu, bukankah kita harus membuat jadwal semakin penuh?
Tidak.
Waktu kosong juga penting.
Masalahnya adalah kita hampir tidak pernah benar-benar mempunyai waktu kosong lagi.
Antre?
Ponsel.
Lift?
Ponsel.
Menunggu makanan?
Ponsel.
Lima menit sebelum tidur?
Ponsel.
Setiap celah langsung diisi stimulasi.
Bosan Sedikit Tidak Apa-Apa
Kebosanan memberikan ruang untuk pikiran bergerak sendiri.
Kita memperhatikan lingkungan.
Mengingat sesuatu.
Memikirkan rencana.
Mendapat ide.
Tidak semua menit harus dioptimalkan.
Kadang duduk tanpa melakukan banyak hal justru membuat kita lebih sadar bahwa waktu sedang berjalan.
Makan Tanpa Menonton Sesekali
Banyak orang makan sambil:
menonton YouTube,
Netflix,
TikTok,
atau bekerja.
Tidak ada masalah kalau sesekali.
Tetapi coba satu kali makan tanpa layar.
Perhatikan makanannya.
Kecepatan makan.
Suasana ruangan.
Orang yang sedang bersama kita.
Aktivitas sederhana terasa berbeda ketika perhatian benar-benar berada di sana.
Jalan Kaki Tanpa Headphone
Kita sering mengisi perjalanan dengan audio.
Musik.
Podcast.
Video.
Coba sesekali berjalan tanpa apa pun.
Dengar kota.
Lihat toko.
Perhatikan cuaca.
Bukan karena headphone buruk.
Tetapi karena variasi cara mengalami aktivitas yang sama bisa membuat hari terasa berbeda.
Berhenti Mengukur Hidup Hanya dari Produktivitas
Ada hari ketika kita menyelesaikan 12 tugas.
Ada hari ketika hanya menyelesaikan dua.
Produktivitas memang penting dalam konteks tertentu.
Tetapi hidup bukan spreadsheet.
Hari yang “tidak produktif” bisa menjadi hari ketika kita:
berbicara lama dengan orang tua,
bermain dengan anak,
menemani teman,
membaca,
atau sekadar beristirahat setelah minggu yang berat.
Waktu tetap mempunyai nilai meskipun tidak menghasilkan output yang bisa dihitung.
Buat Tradisi Kecil
Friday night dinner.
Sunday morning coffee.
Jalan sore setiap tanggal tertentu.
Movie night bulanan.
Makan bersama keluarga.
Tradisi memberikan struktur emosional pada kalender.
Kita mempunyai sesuatu yang tidak sekadar deadline atau pekerjaan.
Dan ketika melihat ke belakang, periode hidup lebih mudah dibedakan melalui ritual kecil tersebut.
Journaling Tidak Harus Panjang
Tidak perlu menulis tiga halaman setiap malam.
Cukup tiga pertanyaan:
Apa yang terjadi hari ini?
Apa yang paling saya nikmati?
Apa yang ingin saya ingat?
Jawab satu atau dua kalimat.
Setelah satu tahun, kita mempunyai ratusan potongan kecil kehidupan yang mungkin sudah terlupakan tanpa catatan tersebut.
Galeri Foto Bisa Menjadi Mesin Waktu
Coba buka foto tiga tahun lalu.
Scroll perlahan.
Tiba-tiba banyak hal kembali.
Restoran yang sudah tutup.
Rambut yang berbeda.
Teman yang dulu sering ditemui.
Kamar sebelum direnovasi.
Kucing ketika masih kecil.
Perjalanan yang hampir terlupakan.
Kita menyadari satu hal:
ternyata banyak yang terjadi.
Waktu mungkin terasa cepat ketika dijalani, tetapi jejaknya tetap ada.
Perubahan Kecil Membuat Tahun Lebih Terlihat
Kalau seluruh tahun mempunyai rutinitas identik, periode tersebut lebih mudah bercampur dalam ingatan.
Tetapi ketika ada perubahan:
mulai olahraga,
pindah rumah,
belajar sesuatu,
mengubah gaya,
memulai hobi,
pergi ke tempat baru,
tahun tersebut memperoleh beberapa bab.
Kita mempunyai “sebelum” dan “sesudah”.
Jangan Memaksa Membuat Setiap Hari Spesial
Ini penting.
Kalau kita mulai berpikir setiap hari harus memorable, muncul tekanan baru.
Tidak perlu.
Ada hari biasa.
Bahkan sebagian besar hidup memang terdiri dari hari biasa.
Yang bisa dilakukan adalah lebih hadir di dalamnya.
Minum kopi dan benar-benar merasakan kopinya.
Berjalan dan memperhatikan jalan.
Berbicara dan mendengarkan.
Beristirahat tanpa merasa harus melakukan sesuatu.
Perhatikan Perubahan Musim dan Lingkungan
Kita sering berada di dalam ruangan begitu lama sampai hampir tidak memperhatikan perubahan di luar.
Hari menjadi lebih panjang.
Cuaca berubah.
Pohon berbunga.
Musim hujan datang.
Kota mulai memasang dekorasi akhir tahun.
Hal-hal tersebut sebenarnya merupakan penanda waktu alami.
Memperhatikannya membuat tahun tidak terasa seperti satu blok panjang yang tiba-tiba selesai.
Ulang Tahun Bisa Menjadi Titik Evaluasi, Bukan Cuma Umur Bertambah
Daripada hanya berpikir:
“Wah tambah tua.”
Coba lihat satu tahun sebelumnya.
Apa yang berubah?
Apa yang dipelajari?
Siapa yang masuk dalam kehidupan?
Siapa yang sudah jarang ditemui?
Apa yang sekarang terasa penting tetapi tahun lalu belum terpikirkan?
Kadang kita merasa tidak berubah karena melihat diri sendiri setiap hari.
Perbandingan tahunan menunjukkan gambaran yang berbeda.
Hubungan Membuat Waktu Memiliki Cerita
Ketika mengingat periode tertentu, sering kali kita tidak mengingat pekerjaan apa yang dilakukan setiap Selasa.
Kita mengingat orang.
Siapa yang ada saat itu.
Dengan siapa sering makan.
Siapa yang menemani perjalanan.
Percakapan tertentu.
Momen lucu.
Momen sulit.
Hubungan manusia memberikan narasi pada waktu.
Jangan Terlalu Sering Menunda Bertemu
“Kapan-kapan ngopi.”
Kalimat sederhana.
Kemudian tiga bulan berlalu.
Enam bulan.
Setahun.
Semua orang sibuk.
Kalau seseorang memang penting, kadang perlu membuat waktu secara sengaja.
Tidak harus acara besar.
Makan siang satu jam pun bisa menjadi memori yang bertahan lebih lama daripada puluhan jam scrolling.
Tahun yang Cepat Belum Tentu Tahun yang Buruk
Ini juga perlu diingat.
Merasa waktu berjalan cepat bukan otomatis berarti kita menjalani hidup dengan salah.
Kadang tahun terasa cepat karena kita sedang bahagia.
Sibuk dengan sesuatu yang disukai.
Mempunyai rutinitas yang nyaman.
Tidak ada yang salah dengan stabilitas.
Tujuannya bukan memperlambat jam.
Itu tidak mungkin.
Tujuannya adalah membuat kita sedikit lebih sadar terhadap waktu yang memang sedang kita jalani.
Kita Tidak Bisa Menghentikan Waktu, tetapi Bisa Memberinya Isi
Tidak ada trik yang membuat satu tahun menjadi 500 hari.
Kita tetap akan bertambah usia.
Kalender tetap bergerak.
Tetapi pengalaman kita terhadap periode tersebut bisa berbeda.
Lebih banyak perhatian.
Lebih banyak variasi.
Lebih banyak hubungan.
Lebih banyak pengalaman yang benar-benar kita sadari.
Mungkin itulah cara paling realistis untuk membuat kehidupan terasa tidak sekadar lewat.
Coba Tes Sederhana Minggu Ini
Tidak perlu mengubah seluruh rutinitas.
Pilih satu hal.
Pergi ke tempat baru.
Makan bersama seseorang tanpa ponsel di meja.
Belajar sesuatu selama satu jam.
Berjalan melalui rute berbeda.
Menulis lima kalimat sebelum tidur.
Lakukan sesuatu yang membuat hari tersebut sedikit berbeda dari kemarin.
Kemudian lihat apakah lebih mudah mengingatnya minggu depan.
FAQ
Kenapa waktu terasa semakin cepat saat dewasa?
Ada beberapa kemungkinan yang memengaruhi persepsi waktu, termasuk rutinitas yang semakin familiar, berkurangnya pengalaman baru, perhatian yang terbagi, serta cara kita mengingat suatu periode setelah berlalu.
Apakah waktu benar-benar terasa lebih cepat karena umur?
Waktu secara objektif tidak berubah. Namun cara seseorang mengalami dan mengingat periode waktu dapat berubah seiring usia, rutinitas, pengalaman, dan perhatian.
Kenapa liburan sering terasa lebih panjang daripada hari kerja?
Liburan biasanya menghadirkan lebih banyak informasi dan pengalaman baru. Banyaknya kejadian yang berbeda dapat menciptakan lebih banyak penanda dalam ingatan dibandingkan rutinitas yang sangat familiar.
Bagaimana supaya hari tidak terasa berlalu begitu saja?
Cobalah memberikan perhatian lebih pada aktivitas yang sedang dilakukan, mengurangi autopilot sesekali, mencoba pengalaman baru, menjaga hubungan sosial, dan mencatat momen yang ingin diingat.
Apakah rutinitas membuat waktu terasa lebih cepat?
Rutinitas yang sangat familiar dapat membuat banyak hari terlihat serupa ketika diingat kembali. Namun rutinitas tetap penting untuk kehidupan yang stabil dan tidak perlu dihilangkan seluruhnya.
Apakah media sosial membuat waktu terasa cepat?
Scrolling dapat menyerap banyak waktu tanpa kita sadari. Banyak konten singkat juga belum tentu menghasilkan memori yang kuat, sehingga periode tersebut dapat terasa cepat berlalu ketika dilihat kembali.
Haruskah kita selalu mencoba hal baru?
Tidak. Kehidupan juga membutuhkan stabilitas dan istirahat. Sedikit variasi secara berkala sudah cukup untuk memberikan pengalaman dan penanda baru dalam rutinitas.
Kesimpulan
Senin.
Selasa.
Rabu.
Kamis.
Jumat.
Weekend.
Kemudian Senin lagi.
Kalau semua hari terlihat sama, tidak mengherankan kalau beberapa bulan kemudian kita bertanya:
“Kok sudah September?”
Waktu sebenarnya tidak bergerak lebih cepat.
Mungkin kita hanya semakin jarang memberikan alasan kepada otak untuk membedakan satu hari dari hari lainnya.
Kita tidak perlu meninggalkan pekerjaan.
Tidak perlu traveling setiap bulan.
Tidak perlu mengubah hidup menjadi petualangan tanpa henti.
Cukup tambahkan sedikit kebaruan.
Perhatikan hal-hal kecil.
Belajar sesuatu.
Temui seseorang.
Pergi ke tempat berbeda.
Kurangi beberapa jam yang hilang tanpa disadari.
Dan sesekali berhenti melihat hari hanya sebagai sesuatu yang harus diselesaikan.
Karena pada akhirnya, kita tidak bisa membuat waktu berhenti.
Tetapi kita masih bisa membuatnya lebih terasa ketika sedang dijalani.
